Umat Muslim sering menggunakan Injil Barnabas untuk membela kenabian junjungan mereka.Pertanyaan yang patut direnungkan: Apakah hanya karena ada ayat yang menyatakan kenabian Muhammad, lalu kitab tersebut layak dipercaya tanpa terlebih dahulu memeriksa kebenarannya? Bagaimana dengan ayat-ayat lain di “Injil” Barnabas yang tidak sejalan dengan Al-Quran. Apakah umat Muslim juga bisa mempercayainya?
Banyak yang berprasangka Injil Barnabas ditulis oleh salah seorang murid Yesus yang bernama Barnabas. Pandangan ini jelas salah. Injil Barnabas ditulis oleh Mustafa de Arande. Ia seorang Muslim Arab berkebangsaan Spanyol, hidup sekitar tahun 1500.
Mustafa de Arande tidak menguasai geografi Israel. Juga kurang memahami adat-istiadat dan budaya abad pertama. Ketidak-tahuannya tentang geografi Israel, terlihat dari isi kitabnya yang mengatakan bahwa, “Yesus berlayar dari danau Galilea ke Nazaret” (Pasal 20-21).
Bila kita melihat dalam peta, Nazaret adalah kota daratan. Letaknya 25 kilometer dari danau Galilea, 320 meter di atas permukaan laut. Tidak mungkin Yesus dapat berlayar dari danau Galilea ke Nazaret.
Selain itu dia juga menuliskan bahwa Yesus lahir pada zaman pemerintahan Pontius Pilatus. Pontius Pilatus memerintah di tanah Palestina 26-36 Masehi. Isa Al-Masih lahir antara 3 sampai 6 tahun Masehi. Alkitab menuliskan Pontius Pilatus berkuasa 20 tahun sesudah kelahiran Yesus. Selain tidak menguasai geografi Israel, Mustafa de Arande, pengarang Injil Barnabas, juga kurang memahami sejarah pada abad pertama.
Kesalahan-kesalahan Isi Injil Barnabas
Sebenarnya, andai saja umat Muslim mau membuka diri dan melihat keseluruhan isi dari “Injil” Barnabas, mereka akan menemukan cukup banyak kesalahan dalam kitab tersebut. Bukan hanya menurut perspektif ajaran Alkitab, tetapi juga Al-Quran.
Di bawah ini kami mencoba menjabarkan beberapa kesalahan fatal dari Injil Barnabas. Kiranya ini membuka pikiran para pembaca agar berpikir ulang, apakah kitab tersebut layak diimani.
“Muhammad adalah Mesias, dan Isa selalu menyangkal bahwa Ia bukan Mesias” (Injil Barnabas, Pasal 3, 42, 82).
Sepertinya penulis Injil Barnabas tidak tahu bahwa arti “Mesias” dan “Kristus” adalah sama, yaitu “yang diurapi.” Dalam kitabnya Mustafa de Arande menyebut Yesus dengan sebutan Yesus Kristus (Mesias). Tetapi di beberapa ayat, dia mengatakan bahwa Mesias adalah Muhammad, bukan Yesus.
Sementara Muhammad sendiri tidak pernah mengaku sebagai Mesias. Juga tidak satupun ayat Al-Quran menyebut Muhammad sebagai Mesias. Sebaliknya Nabi Islam dalam Al-Quran berulang kali menyebut “Al-Masih” (Mesias) kepada Isa, Putera Maryam. Umat Muslim perlu bertanya pada diri sendiri, apakah Al-Quran benar atau Mustafa de Arande, pengarang “Injil” Barnabas yang benar?
Mustafa de Arande juga mengatakan pada masa itu penyimpanan anggur menggunakan tong kayu (barrel). Faktanya: Pada abad ke-1, orang menyimpan anggur di kantong kulit. Tong kayu (barrel) baru dibuat setelah abad ke-4. Hal ini membuktikan bahwa penulis “Injil” Barnabas tidak mengerti arkheologi abad pertama.
Penulis menggunakan mata uang dan penukaran yang salah.
Menurutnya: 1 keping emas = 60 keping perunggu. Yang benar adalah: 1 keping emas = 3200 keping perunggu. Atau 1 keping perak = 128 keping perunggu.
Di Pasal 119 “Injil” Barnabas dituliskan: Yesus berkata bahwa gula dan emas diperjual-belikan.Padahal di abad pertama, madu adalah bahan pemanis utama. Gula baru dipakai sebagai alat pemanis dan diperdagangkan di abad ke-6.
Fakta Para Ahli Arkeologi
Pada tanggal 23 Februari 2012, banyak berita media masa yang mengatakan ditemukan Injil berumur 1500 tahun di Turki. Dalam Injil tersebut Yesus memprediksi kedatangan Muhammad. Berita ini diawali oleh tulisan di Media Masa Turki, yang menyatakan bahwa Menteri Kebudayaan Turki Ertugrul Gunay menyatakan hal yang sama.
Sehari setelah berita itu keluar, hanya dengan melihat foto-foto yang ada di media masa tersebut, para ahli bahasa dan arkeologi langsung melihat beberapa keanehan. Yaitu:
Kitab itu ditulis dengan bahasa Syria modern, bukan bahasa Aramaic kuno. Ini adalah dua bahasa yang sangat berbeda. Bahasa Syria modern distandarisasi di tahun 1840, bukan 1500 tahun yang lalu.
Beberapa kata langsung terlihat memiliki kesalahan ejaan dan ada beberapa kata yang menggambarkan jaman yang lumayan modern.
Dan yang paling penting, ada tulisan yang berarti “ditulis pada tahun 1500 Tuhan Kita (Masehi)” di bagian bawah buku itu. Dan diperkirakan bahwa “Injil” Barnabas ini ditulis sekitar tahun 1585.
Menteri Turki Salah Menilai Manuskrip Injil Barnabas
Dengan berpatokan pada bukti-bukti di atas, para ahli arkeologi menyatakan injil tersebut palsu. Pada tanggal 28 Februari 2012, satu minggu setelah pernyataannya, Menteri Kebudayaan Turki menarik kembali statementnya mengenai kitab ini. Lalu mengeluarkan kitab tersebut dari Museum Ankara.
Isa Al-Masih, Mesias Yang Dijanjikan
Dari berbagai bukti yang sudah dijabarkan di atas, sangat jelas “Injil” Barnabas adalah “Injil” palsu!
Injil yang sesungguhnya bukan saja berbicara tentang Pribadi Isa Al-Masih. Lebih dari itu, ia berbicara tentang apa yang dilakukan Isa Al-Masih bagi manusia.
Isa Al-Masih adalah Kalimat Allah yang menjelma menjadi manusia. Datang untuk memberikan nyawa-Nya sebagai korban tebusan bagi banyak orang. “Karena Anak Manusia juga datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang” (Injil, Rasul Besar Markus 10:45).
Kedatangan, kematian dan kebangkitan-Nya telah dinubuatkan sebelum Dia lahir. Lebih dari tujuh ratus tahun sebelumnya seorang nabi besar bernama Yesaya telah menubuatkan hal itu (Kitab Nabi Besar Yesaya 52-53). Dan Kitab Suci Injil Allah telah menggenapinya.
Intisari Injil Allah
Maka, Injil asli adalah Injil yang menyatakan bahwa Isa Al-Masih telah mati, dikuburkan dan dibangkitkan pada hari yang ketiga untuk menebus manusia dari perbudakan dosa (Injil, Surat 1 Korintus 15:3-4).
Hal ini hanya tertulis di Kitab Allah. Maka setiap kitab yang tidak menceritakan kabar baik ini, dapat dikatakan bukan Injil Allah.
sumber: isadanislam.org
Tidak ada komentar:
Posting Komentar